Tag Archives: humaniora

Mempertanyakan Sejarah

Bagi suatu bangsa, sejarah adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak akan pernah terlupakan. Ia bagaikan bayangan yang tidak akan pernah sirna, menjadi cermin bagi manusia untuk kehidupannya, baik untuk saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Sejarah pula yang menjadi cambuk suatu bangsa untuk menentukan pilihan: apakah mau meneruskan sejarah, memperbaiki sejarah, ataupun melupakan sejarah? Namun, terlepas dari semua itu, bahwa sejarah adalah bagian dari jati diri suatu bangsa, benar adanya.

Terkadang sejarah bagaikan “adat” turun-temurun, mitos yang diceritakan dari satu geneasi ke generasi berikutnya dengan sebuah anggapan bahwa melupakan sejarah sendiri adalah sebuah petaka, kekurang-ajaran yang tidak terampuni. Tidak heran jika sampai sekarang gambar si Lenin simbol komunis tetap bertengger di sekitar kota kecil di Kirgiztan (yang dulu sempat berada di bawah kekuasaan komunis Soviet), atau gambar Soekarno-Hatta yang terpajang pada dinding-dinding rumah sebagian warga Indonesia sebagai wujud menghargai perjuangan mereka dan keterikatan mereka dengan sejarah bangsa. Kita memang dilarang lupa sejarah, sampai-sampai dalam setiap pelajaran kita dipaksa untuk mempelajarinya, sekalipun pada dasarnya kita tidak menyukainya. Itulah hebatnya sejarah yang tetap dipelihara dan dijaga oleh negara sehingga bagaimanapun kondisinya, otoritas tetap memaksa kita untuk memahaminya, minimal mengetahuinya.

Continue reading

Mencetak Pahlawan Bangsa dari Kuliah Kemiskinan?

Di tengah gerusan kekejaman kapitalisme, bangsa ini terus melawan, mencoba bertahan sekuat tenaga untuk membuktikan kepada dunia bahwa bangsa yang dulu sempat dijajah ini bisa tetap eksis di kancah internasional. Bangsa ini terus menunjukkan optimisme tinggi terhadap tantangan global meskipun kenyataan masih belum berpihak pada cita-cita menjadi bangsa terdepan dan berperadaban. Ragam program pencegah keterpurukan ekonomi negeri terus digencarkan, berbagai pihak dilibatkan untuk memikirkan nasib perekonomian bangsa. Seolah tidak pernah berhenti, tak pernah menyerah.

Kemiskinan masih menjadi salah satu isu sentral yang tidak akan pernah basi, menjadi bahan janji manis para elit politik saat maju di medan laga perkampanyean dengan menawarkan ragam program pengentasan kemiskinan yang bahkan oleh masyarakat sendiri tidak pernah bisa dipahami.

Continue reading

Perubahan Sosial

Perubahan sosial tidak terjadi sebagaimana zat kimia yang ketika 1 mol unsur Na (misal) yang bermuatan positif direaksikan dengan 1 mol unsur Cl yang bermuatan negatif akan selalu menghasilkan senyawa NaCl yang bersifat netral. Perubahan sosial juga tidak bisa disamakan dengan rumus hitung-hitungan mutlak seperti yang kita pelajari bersama dalam pelajaran Matematika, di mana saat bilangan 11 ditambahkan dengan bilangan 0 hasilnya akan tetap 11. Perubahan sosial melibatkan unsur-unsur yang lebih kompleks, yang melibatkan masyarakat dengan sejumlah pemikiran (termasuk adat, kebiasaan, dan mitos-mitos) dan perasaan yang melingkupinya, serta ragam aturan yang dianggap sacral oleh mereka. Itulah perubahan sosial. Bukan sekedar perubahan dalam skala individu, namun dalam skala masyarakat beserta tatanannya.

Ibnu Khaldun, seorang Filsuf Islam ternama pernah menuliskan dalam kitabnya Mukaddimah tentang manusia sebagai makhluk sosial yang ia tidak akan pernah lepas dan berdiri sendiri untuk menunjang kehidupannya. Manusia tidak akan pernah bisa berdiri sendiri, membusungkan dadanya saat ia merasa punya segalanya. Sekali lagi tidak! Manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Hukum alam manusia adalah bersosialisasi dengan sesamanya, bertemu orang yang berbeda, dan menuntutnya untuk berinteraksi dengan banyak orang sesuai dengan kepentingannya, maka konsesus yang muncul pun akan bisa berbeda ketika manusia bertemu dengan manusia dari latar belakang dan tempat yang berbeda. Inilah yang selanjutnya menjadikan perubahan sosial pada masyarakat itu sebuah niscaya dan tidak ada formulasi yang pasti untuk wujud perubahannya.

Continue reading

Prostitusi, Gratifikasi, dan Kerusakan Negeri

Wanita, Salah Satu Pemusnah Masal
Harta, tahta, dan wanita. Bagi kebanyakan orang 3 senjata ini bagaikan pemusnah masal yang sudah teramat populer. Semua orang tahu bagaimana ketiganya bisa membuat manusia tak ubahnya minum secawan khamr yang melalaikan dan melenakan.
Hartalah yang membuat kebanyakan manusia bisa meninggalkan sisi kemanusiaannya yang bahkan terkadang manusia sendiri tak bisa melogikanya. Pagi hingga larut malam orang akan mengejarnya habis-habisan bak orang kesetanan. Sebelum ia mendapatkan harta yang diinginkan, selamanya ia tak akan berhenti. Begitupun dengan tahta yang dari jaman sebelum Fir’aun hingga jaman Misbakhun, tak pernah sepi dari perkompetisian.

Bagaimana dengan wanita? Jika ada yang menganggap bahwa wanita merupakan racun dunia, barangkali memang berangkat dari sini. Wanita membunuh dari sisi pesonanya, dari sisi kemolekannya, dan dari sisi rayuannya. Tak heran, banyak oknum tertentu yang memanfaatkannya sebagai jalan penggoda mereka yang berkuasa ataupun mereka yang memiliki kuasa. “Mukosa bagi jalannya sebuah proyek dan katalisator untuk terwujudnya suatu tender”, begitu kata mereka. Di sinilah permainan wanita ada, karena harta dan kuasa, seseorang melibatkan peran wanita di dalamnya. Era modern menyebutkan istilahnya sebagai gratifikasi seks. Sebagaimana yang sering disebut-sebut oleh seorang Mahfud MD dalam wawancara perihal maraknya gratifikasi seks di ranah parlemen. Continue reading

Disiplin: Hasil dan Pilihan

Disiplin itu identik dengan tepat, tertib, dan teratur dalam menjalankan suatu hal. Jika ada yang beranggapan bahwa disiplin adalah sifat bawaan, ialah suatu ketidaktepatan. Disiplin tumbuh karena hasil proses dan berkembang karena pilihan. Banyak faktor yang berpengaruh dalam proses pembentukan karakter disiplin, antara lain :

  1. Pola asuh orang tua atau keluarga
  2. Tekad atau keinginan dalam diri
  3. Faktor lingkungan Continue reading